https://docs.google.com/document/d/16FqvtcZ2IHlyREsZhZX9pE7mxqmmU_M032OaCUa72mI/edit?usp=sharing
Rabu, 25 Oktober 2017
Rabu, 22 Maret 2017
Jumat, 06 Januari 2017
MATERI TENTANG JAMUR
MATERI TENTANG JAMUR
A.
Ciri-ciri
jamur
Jamur atau fungi merupakan tumbuhan yang tidak
mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof, tipe sel eukarotik. Jamur ada
yang uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya terdiri dari benang-benang yang
disebut hifa, hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang yang disebut
miselium. Jamur pada umumnya multiseluler (bersel banyak). Ciri-ciri jamur
berbeda dengan organisme lainnya dalam hal cara makan, struktur tubuh,
pertumbuhan, dan reproduksinya.
B.
Manfaat
jamur
Dalam hal ini manfaat jamur ialah sebagai pengurai
atau decomposer, sumber makanan, membantu pengolahan makanan, memproduksi bahan
organik dan menghasilkan antibiotik. Untuk kerugian akibat jamur ialah dapat
menyebabkan penyakit pada tumbuah, hewan dan manusia; menghasilkan racun; dan
merusak berbagai peralatan, pakaian dan bahan pangan.
C.
Penggolongan
jamur
Jamur dibagi menjadi 4 golongan, yaitu :
1.
ZYGOMYCOTA
Tubuh Zygomycota terdiri dari benng hifa yang bersekat
melintang, ada pula yang tidak bersekat melintang. Hifa bercabang-cabang banyak
dan dinding selnya mengandung kitin.
Contoh jamur ini adalah jamur yang tumbuh pada tempe,
selain itu ada juga yang hidup secara saprofit pada rotin, nasi, dan bahan
makanan lainnya. Ada pula yang hidup secara parasit, misalnya penyebab penyakit
busuk pada ular jalar.
Jamur Zygomycota berkembangbiak secara aseksual dengan
spora. Beberapa hifa akan tumbuh ke atas dan ujungnya menggembung membentuk
spoangium. Sporangium yang masuk berwarna hitam. Spoangium kemudian pecah dan
spora tersebar, spora jatuh di tempat yang sesuai akan tumbuh membentuk benang
baru.
2.
ASCOMYCOTA
Ciri Khusus dari jamur Ascomycota adalah dapat
menghasilkan spora askus (askospora), yaitu spora hasil repoduksi seksual,
berjumlah 8 spora yang tersimpan di dalam kotak spoa. Kotak spora ini
menyerupai kantong sehigngga disebut askus, untuk mengetahui bentuk dan stuktu
askus dibutuhkan pengamatan yang teliti.
Reproduksi Secara Aseksual Selain reproduksi secara
seksual, jamur ini juga melakukan perkembangbiakkan secara aseksual melalui
pembentukan tunas, pembentukan konidia, fragmentas. Warna spora dan konidia
bemacam-macam. Ada yang hitam,coklat, bahkan kebiruan, dan juga ada yang merah
oranye. Ukuran tubuh Ascomycota ada yang mikroskopis (satu sel), ada yang makroskopis
(dapat dilihat dengan mata). Golongan jamur ini ada yang hidup saprofit,
parasit dan ada pula yang bersimbiosis.
3.
BASIDIOMYCOTA
Jamur Basidiomycota umumnya merupakan jamur
makroskopik, dapat dilihat dengan mata karena ukuannya yang besar. Pada musim
penghujan dapat kita temukan pada pohon, misalnya jamur kuping, jamur pohon,
atau di tanah yang banyak mengandung bahan oganik, misalnya jamur barat. Bentuk
tubuh buahnya kebanyakan mirip payung misalnya pada jamur merang yang kalian
amati. Basidiomycota ada yang dibudayakan misalnya jamur merang, jamur tiram,
jamur shiltake, dan lainnya, jamur-jamur tersebut merupakan makan yang bergizi
tinggi.
Hifa Basidiomycota memiliki sekat melintang, berinti
satu (monokaiotik) atau dua (dikariotik). Miseliumnya berada pada substrat.
Dari hifa dikariotik dapat muncul tubuh buah berbentuk payung atau bentuk lain
yang menjulang di atas substrat. Bagian tubuh buah inilah yang enak dimakan.
Tubuh buah atau basidiokarp merupakan tempat tumbuhnya basidium. Setiap basidium
menghasilkan 4 spora basidum. Secara singkat daur hidup Basidiomycota :Hifa (+)
bertemu hifa (-) à inti dari hifa (+)pindah ke hifa(-) à hifa dikariotik à
tumbuh miselium muncul basidiokarpàmembentuk basidium à spora basidium.
4.
DEUTEROMYCOTA
Telah dibahas sebelumnya bahwa jamu yang repoduksi
seksualnya menghasilkan askus digolongkan kedalam Ascomycota dan yang
menghasilkan basidium digolobgkan kedalam Basidiomycota. Akan tetapi belum
semua jamu yang dijumpai di alam telah diketahui cara repoduksi seksualnya.
Kira-kira terdapat sekitar 1500 jenis jamur yang belum diketahui cara
reproduksi seksualnya. Akibat dari hal ini Tidak ada yang bisa menggolongkan
1500 jamur tersebut. Jamur yang demikian untuk sementara waktu digolongkan k
dalam Deuteromycota atau “jamur tak tentu”. Jadi Deuteromycota bukanlah
penggolongan yang sejati atau bukan takson. Jika kemudian menurut penelitian
ada jenis dari jamu ini yang diketahui proses reproduksi seksualnya,maka akan
dimasukkan ke dalam ascomycota atau Basidiomycota. Sebagai cotnoh adalah jamur
oncom yang mula-mula jamur ini berada di divisi deuteromycota dengan nama
Monilla Sithophila. Namun setelah diteliti ternyata jamur ini menghasilkan
askus sehingga dimasukkan ke dalam Ascomycota.
D.
Reproduksi
jamur
Reproduksi jamur dapat secara seksual (generatif) dan
aseksual (vegetatif). Secara aseksual, jamur menghasilkan spora. Spora jamur
berbeda-beda bentuk dan ukurannya dan biasanya uniseluler, tetapi adapula yang
multiseluler. Apabila kondisi habitat sesuai, jamur memperbanyak diri dengan
memproduksi sejumlah besar spora aseksual. Spora aseksual dapat terbawa air
atau angin. Bila mendapatkan tempat yang cocok, maka spora akan berkecambah dan
tumbuh menjadi jamur dewasa. Reproduksi secara seksual pada jamur melalui
kontak gametangium dan konjugasi. Kontak gametangium mengakibatkan terjadinya
singami, yaitu persatuan sel dari dua individu. Singami terjadi dalam dua
tahap, tahap pertama adalah plasmogami (peleburan sitoplasma) dan tahap kedua
adalah kariogami (peleburan inti). Setelah plasmogami terjadi, inti sel dari
masing-masing induk bersatu tetapi tidak melebur dan membentuk dikarion.
Pasangan inti dalam sel dikarion atau miselium akan membelah dalam waktu
beberapa bulan hingga beberapa tahun. Akhimya inti sel melebur membentuk sel
diploid yang segera melakukan pembelahan meiosis.
E.
Gambar
jamur


Langganan:
Komentar (Atom)






